Thursday, 12 July 2012

Penanganan Kecelakaan Kerja


KECELAKAAN KERJA

I.               Pendahuluan
Perkembangan industri di Indonesia saat ini semakin maju tetapi perkembangan itu belum di imbangi dengan kesadaran untuk memahami dan melaksanakan keselamatan kerja secara benar supaya untuk mencegah kecelakaan yang sering terjadi di tempat kerja belum dilakukan dengan baik.
   Banyak jenis kecelakaan yang terjadi di tempat kerja dari yang ringan sampai dengan berat, tetapi hal ini tidak dilaporkan secara benar untuk ditindak lanjuti sebagai upaya pencegahannya.
   Pencegahan kecelakaan dapat dipelajari dari kecelakaan itu sendiri dan kecelakaan yang hampir terjadi. Dengan menginvestigasi setiap kejadian, kita bisa mengetahui tentang penyebab kecelakaan dan dapat menentukan langkah untuk pencegahannya atau memperkecil kemungkinan terjadinya kecelakaan.

II.            Pengertian dan teori kecelakaan kerja
Definisi dari kecelakaan kerja yaitu :
Situasi tidak terduga yang menimbulkan kerusakan materi, kegagalan, proses produksi, luka bahkan kematian.

III.          Analisa Sebab dan akibat kecelakaan
Ada tiga penyebab utama kecelakaan kerja yaitu :
1.       Peralatan kerja dan perlengkapannya
Tidak tersedianya alat pengaman dan pelindung bagi tenaga kerja.
2.       Tempat kerja
Keadaan tempat yang tidak  memenuhi syarat, seperti faktor fisik dan faktor kimia yang tidak sesuai dengan persyaratan yang tidak diperkenankan.
3.      Pekerja
Kurangnya pengetahuan dan pengalaman tentang cara kerja dan keselamatan kerja serta kondisi fisik dan mental pekerja yang kurang baik.
Kecelakaan ada penyebabnya dan dapat dicegah dengan mengurangi faktor bahaya yang bisa mengakibatkan terjadinya kecelakaan, dengan demikian akar penyebabnya dapat diisolasi dan dapat menentukan langkah untuk mencegah terjadinya kecelakaan kembali. Akar penyebab kecelakaan dapat dibagi menjadi 2 kelompok :
1. Immediate causes
    Kelompok ini terdiri dari 2 faktor yaitu :
a.            Unsafe Acts ( pekerjaan yang tidak aman ) misalnya penggunaan alat pengaman yang tidak sesuai atau tidak berfungsi, sikap dan cara kerja yang kurang baik, penggunaan peralatan yang tidak aman, melakukan gerakan berbahaya.
b.            Unsafe Condition ( lingkungan yang tidak aman ) misalnya tidak tersedianya perlengkapan safety atau perlengkapan safety yang tidak efektif, keadaan tempat kerja yang kotor dan berantakan, pakaian yang tidak sesuai untuk kerja, faktor fisik dan kimia dilingkungan kerja tidak memenuhi syarat.
2. Contributing causes
a.            Safety manajemen system, misalnya instruksi yang kurang jelas, tidak taat pada peraturan, tidak ada perencanaan keselamatan, tidak ada sosialisasi tentang keselamatan kerja, faktor bahaya tidak terpantau, tidak tersedianya alat pengaman dan lain-lain.
b.            Kondisi mental pekerja, misalnya kesadaran tentang keselamatan kerja kurang, tidak ada koordinasi, sikap yang buruk, bekerja lamban, perhatian terhadap keselamatan kurang, emosi tidak stabil, pemarah dan lain-lain.
c.             Kondisi fisik pekerja, misalnya sering kejang, kesehatan tidak memenuhi syarat, tuli, mata rabun dan lain-lain.

IV.          Pencegahan dan Penanggulangan Kecelakaan kerja
Pencegahan kecelakaan kerja dapat dilakukan dengan :
1.        Pengamatan resiko bahaya di tempat kerja
Pengamatan resiko bahaya di tempat kerja merupakan basis informasi yang berhubungan dengan banyaknya dan tingkat jenis kecelakaan yang terjadi ditempat kerja.
Ada 2 ( dua ) tipe data untuk mengamati resiko bahaya di tempat kerja
a.      Pengukuran resiko kecelakaan, yaitu mengkalkulasi frekwensi kecelakaan dan mencatat tingkat jenis kecelakaan yang terjadi sehingga dapat mengetahui hari kerja yang hilang atau kejadian fatal pada setiap pekerja.
b.      Penilaian resiko bahaya, yaitu mengindikasikan sumber pencemaraan, faktor bahaya yang menyebabkan kecelakaan, tingkat kerusakaan dan kecelakaan yang terjadi. Misalnya bekerja di ketinggian dengan resiko terjatuh dan luka yang diderita pekerja atau bekerja di pemotongan dengan resiko terpotong karena kontak dengan benda tajam dan lain-lain.
2.      Pelaksanaan SOP secara benar di tempat kerja
Standar Opersional Prosedur adalah pedoman kerja yang harus dipatuhi dan dilakukan dengan benar dan berurutan sesuai instruksi yang  tercantum dalam SOP, perlakuan yang tidak benar dapat menyebabkan kegagalan proses produksi, kerusakaan peralatan dan kecelakaan. 
3.      Pengendalian faktor bahaya di tempat kerja
Sumber pencemaran dan faktor bahaya di tempat kerja sangat ditentukan oleh proses produksi yang ada, teknik/metode yang di pakai, produk yang dihasilkan dan peralatan yang digunakan. Dengan mengukur tingkat resiko bahaya yang akan terjadi, maka dapat diperkirakan pengendalian yang mungkin dapat mengurangi resiko bahaya kecelakaan.
Pengendalian tersebut dapat dilakukan dengan :
a.      Eliminasi dan Substitusi, yaitu mengurangi pencemaran atau resiko bahaya yang terjadi akibat proses produksi, mengganti bahan berbahaya yang digunakan dalam proses produksi dengan bahan yang kurang berbahaya.
b.      Engineering Control, yaitu memisahkan pekerja dengan faktor bahaya yang ada di tempat kerja, membuat peredam untuk mengisolasi mesin supaya tingkat kebisingannya berkurang, memasang pagar pengaman mesin agar pekerja tidak kontak langsung dengan mesin, pemasangan ventilasi dan lain-lain.
c.       Administrative control, yaitu pengaturan secara administrative untuk melindungi pekerja, misalnya penempatan pekerja sesuai dengan kemampuan dan keahliannya, pengaturan shift kerja, penyediaan alat pelindung diri yang sesuai dan lain-lain.
4.      Peningkatan pengetahuan tenaga kerja terhadap keselamatan kerja
Tenaga kerja adalah sumber daya utama dalam proses produksi yang harus dilindungi, untuk memperkecil kemungkinan terjadinya kecelakaan perlu memberikan pengetahuan kepada tenaga kerja tentang pentingnya pelaksanaan keselamatan kerja saat melakukan aktivitas kerja agar mereka dapat melaksanakan budaya keselamatan kerja di tempat kerja. Peningkatan pengetahuan tenaga kerja dapat dilakukan dengan memberi pelatihan Keselamatan dan Kesehatan Kerja pada awal bekerja dan secara berkala untuk penyegaran dan peningkatan wawasan. Pelatihan ini dapat membantu tenaga kerja untuk melindungi dirinya sendiri dari faktor bahaya yang ada ditempat kerjanya.
5.      Pemasanngan peringatan bahaya kecelakaan di tempat kerja
Banyak sekali faktor bahaya yang ditemui di tempat kerja, pada kondisi tertentu tenaga kerja atau pengunjung tidak menyadari adanya faktor bahaya yang ada ditempat kerja, untuk menghindari terjadinya kecelakaan maka perlu dipasang rambu-rambu peringatan berupa papan peringatan, poster, batas area aman dan lain sebagainya.

Selain upaya pencegahan juga perlu disediakan sarana untuk menanggulangi kecelakaan yang terjadi di tempat kerja yaitu :
1.       Penyediaan P3K
Peralatan P3K yang ada sesuai dengan jenis kecelakaan yang mungkin terjadi di tempat kerja untuk mengantisipasi kondisi korban menjadi lebih parah apabila terjadi kecelakaan, peralatan tersebut harus tersedia di tempat kerja dan mudah dijangkau, petugas yang bertanggung jawab melaksanakan P3K harus kompeten dan selalu siap apabila terjadi kecelakaan di tempat kerja.
2.       Penyediaan peralatan dan perlengkapan tanggap darurat
Kecelakaan kerja yang terjadi di tempat kerja terkadang tanpa kita sadari seperti terkena bahan kimia yang bersifat korosif yang dapat menyebabkan iritasi pada kulit / mata atau terjadinya kebakaran, untuk  menanggulangi keadaan tersebut perencanaan dan penyediaan perlatan / perlengkapan tanggap darurat di tempat kerja sangat diperlukan seperti pemadam kebakaran, hidran, peralatan emergency shower, eye shower dengan penyediaan air yang cukup, semua peralatan ini harus mudah dijangkau.



V.      Sistem Pelaporan dan Statistik data Kecelakaan Kerja
Pelaporan dan statistik data kecelakaan dilakukan dengan penilaian dan analisa kecelakaan yang ditemukan di tempat kerja, hal ini di tujukan untuk upaya pencegahan kecelakaan, data ini juga berguna untuk menilai besarnya biaya penggantian perawatan bagi korban kecelakaan, data ini juga berguna untuk menilai besarnya biaya penggantian perawatan bagi korban kecelakaan. Adapun tujuan utamanya yaitu :
1.        Memperkirakan penyebab dan besarnya permasalahan kecelakaan yang terjadi.
2.       Mengidentifkasi pencegahan utama yang dibutuhkan.
3.       Mengevaluasi efektivitas pencegahan yang dilakukan.
4.      Memonitor resiko bahaya, peringatan bahaya dan kampanye keselamatan kerja.
5.       Mencari masukan informasi dari pencegahan yang dilakukan.
Informasi tentang kecelakaan kerja yang harus di catat sebagai berikut :
  1. Identifikasi dimana kecelakaan terjadi.
  2. Gambaran bagaimana kecelakaan itu terjadi.
  3. Penentuan tingkat jenis kecelakaan yang terjadi.
Informasi ini harus didokumentasikan dengan benar untuk langkah-langkahpencegahan selanjutnya. ( Lihat contoh formulir Laporan Kecelakaan Kerja . Hal. : 6 )
Pengumpulan informasi kecelakaan kerja mempunyai 3 fungsi yaitu :
  1. Ditempat kerja, data kecelakaan kerja digunakan untuk peringatan bagi tenaga kerja agar berhati-hati saat melakukan aktivitas.
  2. Di bidang hukum, data ini digunakan untuk membuat peraturan tentang lingkungan kerja dan ketentuan penerapan  keselamatan di tempat kerja.
  3. Di bidang asuransi kecelakaan, data ini berguna untuk menentukan tingkat kecelakaan dan besarnya santunan yang harus diberikan sesuai tingkat kecelakaan yang terjadi.



Contoh Laporan Kecelakaan Kerja
Laporan Kecelakaan Kerja
   No. Seri : ..............
   Pekerja Terluka
Nama
Tempat dan tgl lahir
- Pekerja
- Pegawai Training
- Keluarga Pekerja
Alamat
Kode pos
Warga negara
Pekerjaan
Wkt Kec.  Tgl   Bln   Thn     Jam

Informasi Perusahaan
Nama Perusahaan
No. Registrasi Perusahaan
Alamat
Kode Pos
Jumlah TK
Jenis Perusahaan
Masa Produksi                                    Bln                 Thn
Tempat terjadinya Kec.
Alamat
Kode Pos

   Jenis Pekerjaan dan Tempat Kerja
Jenis Pekerjaan apa yang dilakukan korban saat kecelakaan terjadi ?
Dimana terjadinya Kecelakaan  ?

   Gambaran terjadinya kecelakaan
Apa yang sedang dilakukan korban saat kecelakaan terjadi dan alat apa yang digunakan ?

Apakah ada kerusakan  pada alat yang digunakan ( berhubungan dengan kondisi peralatan )

Apa ada faktor pendukung yang menyebabkan kecelakaan ? ( berhubungan dengan kondisi tempat kerja )


   Tingkat Kecelakaan Kerja
Jenis Kecelakaan
Bagian Organ Tubuh yang terluka
-     Tergores
-     Luka Terbuka
-     Luka Tertutup
-     Terpotong
-     Meninggal
-      Keracunan
-      Terkena bahan kimia
-      Terkena radiasi
-      Tersengat listrik
-      Lain-lain
-       Kepala
-       Mata
-       Leher
-       Punggung
-       Perut
-       Pundak
-       Tangan
-       Jari
-       Kaki
-       Lain-lain
Gambaran keseluruhan tentang kondisi korban sehubungan dengan tingkat kecelakaan.

   Tingkat kecelakaan sehubungan dengan hilangnya waktu kerja.
Tidak Absen
Absen 1-3
Absen 4-14
Absen lebih 14 hr
Cacad
Meninggal




   Tanggal :                                                .....................................                           ......................................................................................
                                                Tanda Tangan Petugas
 
 
  


Beberapa Contoh Jenis Kecelakaan Kerja dan Penanganannya

1.        GIGITAN ULAR
Ketika Anda digigit ular, penting untuk mengetahui apakah ular tersebut berbisa atau tidak. Beberapa contoh ular berbisa antara  lain ular derik ( rattle snake ), ular mulut kapas (cottonmouth/water mocasin), copperhead, dan ular laut ( coral snake )
Penanganan :
1.       Buka jalan pernafasan dan lakukan pernafasan buatan jika diperlukan.
  1. Usahakan korban tenang ( diam ) untuk memperlambat aliran darah, hal ini akan membantu menghentikan penyebaran bisa.
  2. Apabila gigitan tersebut terdapat pada lengan atau kaki gunakan alat untuk memperlambat peredaran darah (turkinet ), seperti ikat pinggang atau tali elastis. Ikatkan 5 – 10 cm di atas gigitan dan jangan terlalu kencang. Pastikan anda masih bisa merasakan denyut nadi pada bagian bawah luka, atau selipkan jari anda diabawah ikatan. Darah akan menetes keluar lewat luka gigitan.
  3. Bila timbul pembengkakan pada daerah yang diikat, pindahkan ikatan 5 - 10 cm menjauh ke atas dari ikatan sebelumnya.
5.      Jangan melepaskan ikatan sampai pertolongan medis datang.
6.      Cucilah luka gigitan dengan menggunnakan sabun dan air.
7.      Usahakan tangan atau kaki yang tergigit tidak bergeser.
  1. Keluarkan racun dengan cara melukai bagian yang tergigit sedalam 0,25 – 0,5 cm. Jika tersedia perangkat P3K untuk gigitan ular (snake Kit) tersedia gunakan pisau didalamnya, tetapi jika tidak ada gunakan pisau lain yang sebelumnya disterilkan dengan cara dibakar di atas nyala api atau direndam dalam rebusan air mendidih. Buatlah sayatan vertikal sepanjang + 1,25 cm di antara lubang gigitan mengikuti arah panjang lengan atau kaki ( jangan menyilang / menyerong ). Berhati-hatilah sewaktu membuat sayatan dan jangan terlalu dalam, cukup di bawah kulit saja karena dapat merusak jaringan otot, saraf atau tendon pada pergelangan tangan atau kaki.
  2. Apabila tersedia alat penetralisir racun, keluarkan racun dengan alat tersebut. Jika alat tidak tersedia, sedotlah dengan mulut untuk mengeluarkan racunnya. Jangan menelannya, lanjutkan samapi 30 menit atau lebih. Berkumurlah setelah anda selesai.

PERINGATAN :
Tidak diperkenankan mengompres luka dengan air dingin atau es, karena akan memperparah luka.
Perawatan Lanjutan :
1.       Tutupi luka dengan perban steril atau kain basah.
2.       Usahakan korban tetap tenang dan diam.
3.      Bantu korban dari kemungkinan terjadinya syok.
  1. Jangan biarkan korban berjalan sendiri kecuali memang sangat diperlukan, berjalanlah pelan-pelan.
  1. Berikan sedikit minuman pada korban bila ia tidak mengalami kesulitan dalam menelan. Jangan diberi minum jika korban merasa pusing, mual, tidak stabil, dan tidak sadar.
6.      Jangan memberikan minuman beralkohol pada korban.
  1. Bawa korban ke rumah sakit, langsung dibawa ke unit gawat darurat. Bila anda mengetahui jenis ular yang menggigit katakan pada paramedis agar dapat memberikan obat atau serum anti racun yang tepat.



2.        MEMAR
Memar adalah luka yang sering kita jumpai dan dialami oleh seseorang. Hal ini terjadi karena beberapa hal seperti misalnya akibat terjatuh atau pukulan ke badan yang menyebabkan beberapa pembuluh darah pecah di bawah permukaan kulit. Perubahan warna dan pembengkakan pada kulit timbul karena adanya rembesan darah kedalam jaringan.

Gejala :
1.       Terasa sakit.
2.       Kulit memerah.
3.      Selanjutnya berubah warnanya menjadi biru atau hijau.
  1. Terkadang timbul bengkak/benjolan yang disebut dengan istilah hematoma pada bagian tersebut.
  2. Akhirnya warna kulit berubah coklat dan kekuningan sebelum sembuh dengan sendirinya.

Penanganan :
  1. Kompres menggunakan air dingin atau es pada daerah yang memar untuk mengurangi perdarahan dan pembengkakan.
  2. Bila memar terjadi pada lengan atau kaki, angkat bagian tersebut dengan posisi lebih tinggi dari jantung untuk mengurangi aliran darah lokal.
  3. Setelah 24 jam, gunakan kompres hangat untuk membantu penyembuhan luka. Kompresan hangat akan membuka pembuluh darah sehingga memperlancar sirkulasi pada area tersebut.
  4. Bila memar bertambah parah atau bengkak dengan rasa sakit tak tertahankan, segera bawa ke Rumah Sakit karena ada kemungkinan patah tulang atau luka lainnya.


3.        LUKA BAKAR
Tujuan pertolongan pertama pada korban luka bakar adalah untuk mengurangi rasa sakit, mencegah terjadinya infeksi, mencegah dan mengatasi peristiwa syok yang mungkin dialami oleh korban.
Pertolongan luka bakar adalah usaha untuk menurunkan suhu di sekitar luka bakar sehingga dapat mencegah luka pada jaringan di bawahnya lebih parah lagi.
Sebagaimana luka serius pada umumnya, tindakan pertama yang dapat Anda lakukan adalah menjaga jalan napas agar korban dapat bernafas dengan lancar.

LUKA BAKAR TINGKAT I
Luka bakar tingkat I adalah luka bakar dengan tingkat kerusakan jaringan hanya dibagian luar lapisan kulit. Sebagai contoh kulit terkena sengatan sinar matahari, kontak langsung dengan objek yang panas seperti air panas atau uap panas. Untuk luka bakar seperti ini umumnya tidak disertai dengan melepuh pada kulit.

Gejala :
1.       Kemerahan pada bagian yang terbakar.
2.       Bengkak ringan.
3.      Nyeri.
4.      Kulit tidak terkoyak karena melepuh.

Penanganan :
  1. Siram dengan air mengalir bagian luka yang terbakar atau kompres dengan air dingin (saputangan yang dicelupkan ke air dingin). Lakukan sampai rasa sakit mengilang.
2.       Tutup luka bakar dengan kain perban steril untuk mencegah infeksi.
3.      Jangan memberi mentega atau minyak pada luka bakar.
4.      Jangan memberikan obat-obatan lain atau ramuan tanpa persetujuan dokter.




LUKA BAKAR TINGKAT II
Luka bakar yang menyebabkan kerusakan pada lapisan dibawah kulit dikategorikan sebagai luka bakar tingkat II. Contoh luka bakar tingkat II adalah sengatan sinar matahari yang berlebihan, cairan panas dan percikan api dari bensin atau substansi lain.

Gejala :
1.       Kemerahan atau bintik-bintik/bergaris.
2.       Melepuh.
3.      Bengkak yang tidak hilang selama beberapa hari.
4.      Kulit terlihat lembab/becek.

Penanganan :
  1. Siram air dingin atau air es pada daerah luka atau beri kompres dengan menggunakan handuk kecil, saputangan yang sebelumnya dicelup kedalam air.
2.       Keringkan luka menggunkan handuk bersih atau bahan lain yang lembut.
3.      Tutup dengan perban steril untuk menghindari infeksi.
4.      Angkat bagian tangan atau kaki yang terluka lebih tinggi dari organ jantung.
  1. Segera cari pertolongan medis jika korban menngalami luka bakar disekitar bibir atau kesulitan dalam bernafas. Jangan mencoba mengempiskan luka yang melepuh atau mengoleskan minyak, semprotan atau ramuan lain tanpa sepengetahuan dokter.

LUKA BAKAR TINGKAT III
Luka bakar yang menghancurkan semua lapisan kulit dikategorikan sebagai luka bakar tingkat III. Kontak terlalu lama dengan sumber panas dan luka bakar akibat tersengat listrik adalah penyebab utama luka bakar tingkat III.

Gejala :
1.       Daerah luka tampak berwarna putih.
2.       Kulit hancur.
3.      Sedikit nyeri karena ujung syaraf telah rusak.


PERINGATAN
1.       Jangan melepaskan pakaian yang melekat pada luka.
2.       Jangan memberi es atau air es pada luka karena hal ini dapat menyebabkan reaksi syok.
3.      Jangan mengolesi minyak semprotan atau ramuan lainnya pada luka.


Penanganan :
  1. Jika korban masih dalam keadaan terbakar, padamkan api dengan menggunakan selimut , bed cover, karpet, jaket atau bahan lain.
  2. Kesulitan bernapafas dapat terjadi pada korban , khususnya bila luka terdapat pada wajah, leher dan sekitar mulut. Dikarenakan menghirup asap yang menyertai peristiwa kebakaran . lakukan pemeriksaan untuk memastikan korban bisa bernafas.
  3. Tempelkan kain basah atau air dingin, tetapi jangan menggunakan air es untuk luka dibagian wajah, tangan dan kaki. Hal ini dimaksudkan untuk menurunkan suhu daerah luka.
  4. Tutup luka bakar dengan perban steril dan tebal, kain bersih, sarung bantal, popok bersih, atau bahan lain yang dapat anda temukan. Tetapi jangan bahan yang mudah rontok seperti kapas/kapuk.
  5. Segera telepon ambulan, penting bagi korban untuk mendapatkan perawatan walaupun lukanya tidak terlalu besar.

Perawatan lanjutan :
  1. Angkat bagian tubuh yang luka lebih tinggi dari posisi organ jantung bila memungkinkan.
2.       Jangan membiarkan korban berjalan sendiri.
  1. Apabila bagian yang terbakar adalah muka atau leher, beri bantal dibagian kepalanya, kemudian periksa apakah ia punya masalah atau kesulitan dalam bernafas.
4.      Tindakan untuk korban Syok :
a.      Biarkan korban berbaring walaupun bagian yang terbakar adalah muka atau leher.
b.      Naikan kaki korban setinggi 25 - 30 cm, kecuali bila korban tidak sadarkan diri atau terluka pada bagian leher, kepala, dada, dan wajah. Korban yang pingsan dengan luka dibawah muka (rahang) harus ditidurkan dalam posisi miring untuk mencegah korban tersedak jika sewaktu-waktu ia mengalami muntah. Bila korban kesulitan dalam bernafas, tengadahkan kepalanya untuk membantu melancarkan jalan nafas.
         
c.       Bila rasa sakit bertambah, turunkan lagi kakinya.
d.      Selimuti korban supaya lebih nyaman, tetapi jangan terlalu panas, bila mungkin taruhlah selimut dibawahnya.
e.      Bila pertolongan medis belum datang setelah 2 jam kemudian, berikan minuman atau cairan dengan sedikit garam.
f.         Jangan memberi minum korban jika ia pingsan
g.       Usahakan korban setenang mungkin untuk menghindari syok.

LUKA BAKAR KARENA BAHAN KIMIA
Penanganan :
  1. Cuci area yang terkena bahan kimia dengan air mengalir paling tidak selama 5 menit. Kecepatan dan banyaknya air yang mengucur sangatlah penting dalam mencegah perluasan luka, gunakan air kran, shower atau air mnegucur lainnya.(jangan terlalu deras tekanan airnya)
2.       Bersihkan pakaian di daerah luka sambil tetap dikucuri air.
  1. Lihat label pada bahan kimia dan perhatikan apakah ada petunjuk yang tertera untuk penanggulangan luka bakar akibat bahan kimia tersebut.
4.      Tutupi luka dengan menggunakan perban steril atau kain bersih.
  1. Bawa korban segera ke Rumah Sakit, jangan mengoleskan minyak, semprotan, anti septik, atau ramuan lainnya. Memberi balutan kain basah dan dingin adalah yang terbaik untuk mengurangi rasa sakit.

5. TERSENGAT LISTRIK
 Apabila anda adalah orang pertama kali melihat korban, penting bagi anda untuk bersikap waspada dan tenang. Jangan menyentuh korban pada saat listrik masih menyala karena anda beresiko tersengat juga.
Penanganan :
1.       Jika mungkin matikan sumber listrik atau susruhlah orang lain untuk mematikannya.
  1. Sangat penting untuk memindahkan korban dengan hati-hati. Pakailah alas kaki kering seperti koran, papan, selimut, matras karet atau baju kering.
  2. Angkat korban dengan menggunakan papan kering, kayu atau tariklah korban dengan papan yang disodorkan pada bagian lengan atau kaki. Jangan gunakan bahan-bahan dari besi dan bahan yang basah. Jangan menyentuh korban hingga ia terbebas dari sengatan.

 
  

1.       Pastikan korban tidak diletakan pada permukaan yang rata. Bersihkan mulut dan jalan napas dari muntahan atau cairan.
2.       Tengadahkan kepala korban dengan meletakan telapak tangan pada dahi dan jari tangan lain mendorong ke atas bagian dagu korban.
3.      Pencet hidung korban dengan menggunakan ibu jari anda, kemudian ambil napas dalam-dalam, letakkan mulut anda pada mulut korban yang terbuka, tiup dengan cepat 2 kali.
4.      Hentikan tiupan bila dada korban sudah mengembang. Lepaskan mulut anda dari mulut korban, kemudian dekatkan telinga anda kehidung korban untuk mendengarkan embusan napasnya.
5.      Perhatikan dada korban apakah ada gerakan naik turun pertanda ia bernapas.
6.      Ulangi prosedur pemberian napas buatan ini sampai kkorban benar-benar dapat bernapas sendiri.

6.      LUKA PADA MATA

LUKA KARENA BAHAN KIMIA
Peringatan
Luka bakar pada mata yang disebabkan oleh zat kimia adalah hal yang sangat serius dan dapat menyebabkan kebutaan bila penanganan tidak segera dilakukan. Kecepatan membersihkan bahan kimia menentukan tingkat kerusakan. Kerusakan mata akibat terkena bahan kimia terjadi 1 – 5 menit setelah kejadian.

Penanganan :
  1. Sebelum dibawa ke dokter, bersihkan mata dengan menyiram air dingin atau air yang mengalir selama 10 menit untuk membersihkan bahan kimia yang menempel pada mata. Gunakan susu bila tidak tersedia air. Letakkan kepala korban di bawah air kran, kucuran kran usahakan sampai menyentuh mata sehingga bahan kimia tadi tidak sampai memengaruhi mata.
  2. Metode lain adalah dengan mencelupkan mata ke wadah yang berisi air, mata dikedip-kedipkan supaya terbebas dari bahan kimia.
  3. Setelah tahap pembersihan denmgan air selesai, tutupi mata menggunakan perban atau kain bersih.
4.      Jangan biarkan korban menggosok mata.
5.      Bawa korban ke unit gawat darurat dengan segera.

LUKA TERKENA BENDA TUMPUL
Luka pada mata yang disebabkan karena hantaman benda tumpul dapat terjadi dapat sewaktu-waktu. Misalnya saja terkena tendangan bola atau terkena tinju pada saat berolahraga. Kondisi seperti ini membutuhkan pertolongan medis walaupun kelihatannyatidak begitu membahayakan tetapi ada kemungkinan terjadi perdarahan dalam pada mata.
Penanganan :
1.       Kompres dengan air dingin atau es pada mata yang terluka.
2.       Sarankan korban untuk tiduran dengan mata tertutup.
3.      Bawa ke dokter.

BENDA ASING MASUK KE MATA
PERHATIAN
        Jangan sekali kali mengeluarkan benda tumpul yang menancap pada mata, perhatikan segera dibawah ini. Benda –benda asing seperti bulu mata, debu, arang atau kotoran yang menempel pada bola mata dapat dikeluarkan dengan cara hati-hati.

Gejala :
1.       Sakit
2.       Rasa terbakar
3.      Air mata keluar
4.      Mata memerah
5.      Sensitif terhadap cahaya

Bila benda asing tadi masih menancap pada bola mata
Penganan :
  1. Jangan biarkan korban menggosok mata
  2. Cuci tangan anda dengan sabun dan air sebelum menolong korban.
  3. Bila benda asing tersebut menancap pada bola mata jangan berusaha mengeluarkannya.
  4. Pelan-pelan tutup kedua mata untuk mencegah bola mata bergerak yaitu dengan menutupnya memakai kasa / perban steril atau kain basah.
  5. Bawa ke dokter dengan segera terutama dokter spesialis mata atau rumah sakit bagian gawat darurat.

Bila benda asing tersebut menempel/melayang pada bola mata atau pada sisi dalam kelopak mata.
Penanganan :
  1. Jangan biarkan korban  menggosok mata.
  2. Cuci tangan anda dengan menggunakan sabun dan air sebelum melakukan pertolongan.
  3. Secara perlahan tarik kelopak mata sebelah atas menuju ke arah bawah, diamkan beberapa saat sampai keluar air mata.
  4. Bila partikel benda tersebut tidak  dapat dikeluarkan, gunakan semprotan air yang sebelumnya diisi air hangat, kemudian semprotkan pada mata untuk mengeluarkan benda asing.
  5. Bila tidak berhasil juga, tarik lagi kelopak mata bagian atas perlahan-lahan, bila benda asing tersebut terlihat di bawah kelopak mata, angkat dengan menggunakan air bersih, sapu tangan atau tisu.
  6. Jika partikel masih tertinggal juga, tutup mata dengan kain bersih dan bawa korban ke dokter atau paramedis dengan segera.

7.       LUKA

LUKA TERBUKA
Luka terbuka adalah luka dimana bagian kulit tubuh terjadi sobekan. Pertolongan untuk korban luka terbuka meliputi tindakan seperti berikut ini :
  1. Menghentikan pendarahan.
  2. Mencegah kontaminasi dan infeksi.
  3. Mencegah atau penanganan bila terjadi syok.
  4. Hubungi petugas medis bila luka semakin bertambah parah atau bila korban belum mendapatkan suntikan tetanus selama 5 – 7 tahun terakhir

LUKA PADA DADA
Luka pada daerah dada dapat menyebabkan kemungkinan terjadinya kerusakan pada organ paru-paru. Dimana akan terjadi kebocoran aliran udara yang keluar masuk pada paru-paru saat bernapas. Hal ini dapat menjadi masalah yang serius dan membutuhkan tindakan gawat darurat.

Penanganan :
1.       Pastikan korban diletakan pada permukaan yang rata. Bersihkan mulut dan jalan napas dari muntahan atau cairan.
2.       Tengadahkan kepala korban dengan meletakkan telapak tangan pada dahi dan jari tangan yang lain mendorong ke atas bagian dagu korban.
3.      Pencet hidung korban dengan menggunakan ibu jari anda, kemudian ambil napas dalam-dalam, letakkan mulut anda pada mulut korban yang terbuka, tiup dengan cepat 2 kali.
4.      Hentikan tiupan bila dada korban sudah mengembang. Lepaskan mulut anda dari mulut korban, kemudian dekatkan telinga anda ke hidung korban untuk mendengarkan embusan napasnya.
5.      Perhatikan dada korban apakah ada gerakan naik turun pertanda ia bernapas.
6.      Ulangi prosedur pemberian napas buatan ini sampai korban benar-benar dapat bernapas sendiri.

LUKA TERSAYAT
Bila perdarahan tidak parah
Penaganan :
1.       Cuci tangan anda dengan sabun dan air sebelum melakukan pertolongan untuk mencegah kontaminasi pada luka.
2.       bila luka masih mengeluarkan darah, lakukan teknik tekanan langsung pada daerah luka menggunakan oerban steril atau kain bersih.
3.      Ketika perdarahan sudah berhenti, basuhlah luka dengan air dan sabun untuk membersihkan kotoran yang menempel.
4.      Jangan mengeluarkan kotoran yang masuk ke jaringan otot dalam karena dapat menyebabkan perdarahan lebih serius. Biarkan dokter yang melakukannya.
5.      Bilas luka dengan air mengalir.
6.      Keringkan luka dengan air perban steril atau kain bersih.
7.      Jangan mengoleskan salep, obat-obatan anti septic atau ramuan obat lain sebelum berkonsultasi dengan dokter.
8.      Tutupi luka dengan pembalut steril, bila luka sayatan terbuka lebar ( menganga ), gunakan pembalut bentuk kupu-kupu atau pita untuk menyatukan luka.
9.      Hubungi pertolongan medis bila terjadi :
-          Luka semakin parah
-          Perdarahan tidak berhenti
-          Luka disebabkan oleh objek benda kotor
-          Ada kotoran yang masu k ke dalam luka
-          Ada tanda-tanda infeksi seperti korban merasa demam, kemerahan, pembengkakkan, bernanah, dan daerah sekitar luka terlihat merah
-          Korban tidak mendapatkan suntikan tetanus selama beberapa tahun terakhir
10.   Bila pertolongan medis belum datang dan terlihat ada tanda-tanda infeksi. Rebahkan korban dan bagian yang luka jangan digerakkan. Tutup luka dengan kain basah hangat, sampai pertolongan datang.
LUKA TERTUSUK
Luka tertusuk umumnya terjadi karena tertusuk banda-banda tajam. Luka biasanya kecil dan dalam dengan sedikit perdarahan. Namun hal ini justru meningkatkan resiko infeksi karena kuman yang ada sulit dibersihkan.
Penanganan :
1.       Cuci tangan anda dengan air dan sabun sebelum melakukan pertolongan untuk mencegah kontaminasi pada luka.
2.       Periksa kembali apakah ada sebagian benda yang menusuk korban tertinggal dalam jaringan kulit.
3.      Jangan mengeluarkan kotoran yang masuk ke jaringan otot lebih dalam karena dapat menyebabkan perdarahan lebih serius dan biarkan dokter yang melakukannya.
4.      Luka tusukan yang tidak terlalu parah dengan objek benda tertinggal pada permukaan kulit dapat dikeluarkan menggunakan penjepit yang sebelumnya disterilkan dengan merebusnya atau dipanaskan di atas api selama beberapa menit.
5.      Untuk menghindari kontaminasi kuman yang ikut masuk pada jaringan kulit, pencet secara perlahan pinggir luka sampai darah keluar.
6.      Bila luka tusukan kecil, cucilah luka dengan sabun dan air yang mengalir.
7.      Tutup luka dengan perban steril atau kain bersih.
8.      Lakukan pertolongan untuk korban syok bila diperlukan.
9.      Bila pertolongan medis belum datang dan terlihat ada tanda-tanda infeksi. Rebahkan korban dan bagian yang luka jangan digerakkan. Tutup luka dengan kain basah hangat, sampai pertolongan datang.

LUKA GORESAN ATAU TERGARUK
Luka goresan dapat dengan mudah menjadi infeksi bila permukaan kulit bagian luar terbuka dan mengalami kerusakan.

Penanganan :
1.       Cuci tangan anda dengan air dan sabun sebelum melakukan pertolongan untuk mencegah kontaminasi pada luka.
2.       Cuci bagian luka dengan sabun untuk menghilangkan kotoran yang melekat pada luka, gosok secara perlahan.
3.      Jangan mengobati luka sendiri tanpa persetujuan dokter.
4.      Luka goresan kecil tidak perlu ditutup, tetapi jika luka terlihat lebar tutup dengan kain bersih.
5.      Periksa kembali jika terjadi tanda-tanda infeksi seperti warna kemerahan, pembengkakan, dan bernanah. Usahakan korban dalam posisi tidur dan tidak banyak bergerak. Tutup luka dengan kain basah hangat, sampai pertolongan datang.
6.      Hubungi petugas medis atau dokter apabila luka yang terjadi lebar dan dalam. Ada kemungkinan perlu mendapat suntikan tetanus.

LUKA TERTUTUP
Luka seperti ini tidak dapat dilihat dari luar  permukaan kulit dan tidak terlihat adanya goresan pada kulit.

Gejala :
1.       Terasa sakit pada bagian yang terluka.
2.       Korban muntah berwarna merah kehitaman seperti kopi.
3.      Batuk-batuk disertai darah keluar berwarna merah terang.
4.      Tinja berwarna gelap atau ada bercak darah berwarna merah terang.
5.      Pada urin yang keluar mengandung sel-sel darah merah.
6.      kulit terlihat pucat.
7.      Kulit tubuh lembap dan terasa dingin.
8.      Denyut nadi cepat tetapi susah diraba.
9.      Napas cepat.
10.   Pusing.
11.    Bengkak.
12.    Tidak dapat beristirahat.
13.   Merasa haus.

Penanganan :
1.       Buka jalan perbapasan dan lakukan pernapasan buatan bila diperlukan.
2.       Hubungi segera petugas medis.

Perawatan Lanjutan :
1.       Usahakan korban dalam posisi tidur dan tenang.
2.       Bila korban muntah, miringkan kepala untuk mencegah tersedak.
3.       Bila korban kesulitan dalam bernapas, letakkan bantal dibawah bahu.
4.      Perioksa bila ada luka seperti luka patah tulang misalnya.
5.      Usahakan korban sehangat mungkin.
6.      Jangan memberi sesuatu pada korban seperti makan atau minum.
7.      Pastikan korban untu bersikap tenang, karena hal ini berperan penting dalam kelancaran pada pertolongan.
8.      Bila korban terpaksa dipindahkan, lakukan dengan didampingi oleh asisten medis yang sudah berpengalaman. Bawa korban hati-hati dengan posisi tidur.


Sumber : dari berbagai sumber

No comments:

Post a Comment